Tidak ada yang lebih
puitis dari berbicara tentang kebenaran
“Soe Hok Gie”
Demokrasi adalah paham
politik yang digunakan di Indonesia. Rakyat bebas berpendapat semua
boleh mengungkapkan apa yang diinginkan. Seperti itulah sedikit
gambaran tentang demokrasi. Namun soe hok gie pernah mengungkapkan
bahwa “Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah
orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan
pemerintah”
Sekitar beberapa bulan
yang lalu kita baru merayakan pesta demokrasi. Pemilu sebuah hajatan
lima tahunan yang seolah-olah benar kita merayakan demokrasi. Namun
memang politik adalah barang yang kotor segala macam cara dihalalkan
untuk mendapat kursi kekuasaaan. Banyak sekali calon pencoblos yang
benar-benar dibentuk media, mungkin juga atas intervensi dari
keluarga seperti yang saya alami. Paksaan untuk mencoblos yang
dikehendaki keluarga karena paman saya adalah seorang kopasus,
sehingga apabila calon presiden yang mereka pilih menjadi presiden.
Hidup pamanku akan lebih baik seperti era soeharto. Dimana kopasus
dianak emaskan. Namun mereka tidak tahu pekerjaan kotor apa yang
dilakukan. Selalu menggunakan nama stabilitas keamanan nasional.
Orang-orang tak bersalah dihilangkan. Entah paham apa yang dianut
keluarga tercintaku Aku tetap menolak karena aku mempunyai pandangan
sendiri. Meskipun aku harus mengumpat paman karena melakukan yang
menurutku itu hal bodoh.
Kekhawatiran berlanjut
ketika media mulai mempunyai kepentingan politik. Mungkin benar apa
yangsaya pelajari beberapa bulan kebelakang, tentang dunia
jurnalistik. Banyak dari teman bilang bahwa sebuah media sebenarnya
tidah pernah netral. Media akan selalu memihak. Entah kepada rakyat,
pembaca ataupun iklan dan kabir/kapitalis birokrat (nama yang
ngetrend di kalangan PKI untuk para pemegang saham).
Pada dewasa ini
keberpihakan media lebih condong ke kabir. Sehingga masyarakat tidak
lagi mendapat informasi yang sesuai dengan fakta.”Potonglah kaki
tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah
kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia” begitulah
pandangan gie mengenai indepensi media di indonesia.
Namun kebijakan media
tidak bisa bisa 100% salah. Mereka hanya ingin media mereka tetap
hidup. Agar terus mendapat pemasukan karena tanggung jawab mereka
untuk menghidupi para wartawan dan pegawai lainnya. Para kabirlah
yang patut dipertanyakan. Media sebagai watch dog atau alat kontrol
sosial berubah fungsi mendai alat pelanggengan politik. Para pemilik
saham menggunakan media-media mereka untuk saling serang dan
pencitraan.
Ungkapan dengan seorang
teman pegiat pers mahasiswa bahwa “ruang redaksi adalah ruang yang
paling suci”. Sudah jarang lagi di pers umum yang sudah masuk dalam
cengkraman kapitalis. Siapa berani bayar mahal maka dialah pemegang
kendali ruang redaksi. Media merupakan alat pantau agar pembaca tahu
apa yang sedang terjadi disekitarnya. Media juga alat edukasi untuk
ikut andil mencerdaskan bangsa. Bukan alat untuk memeberi informasi
apa yang diinginkan masyarakat atau siapapun. Namun media adalah alat
untuk memberi informasi yang harus diketahui masyarakat.
Sudah sangat jarang media
masa yang bisa benar-benar kembali pada fungsinya sebagai alat
kontrol. Drummer superman is dead yang biasa disapa Jrx dalam akun
twitternya @Jrx menuliskan bahwa “Kekuasaan tanpa oposisi akan
menyebabkan kerakusan pada penguasa”. Disinilah fungsi media
harusnya sebagai oposisi bersama para pencari keadilan dan
orang-orang yang gelisah akan keadaan negerinya hari ini dan esok
hari.[]