Senin, 27 Oktober 2014

Demokrasi semu, Media bias dan kapitalisme

Tidak ada yang lebih puitis dari berbicara tentang kebenaran
Soe Hok Gie”



Demokrasi adalah paham politik yang digunakan di Indonesia. Rakyat bebas berpendapat semua boleh mengungkapkan apa yang diinginkan. Seperti itulah sedikit gambaran tentang demokrasi. Namun soe hok gie pernah mengungkapkan bahwa “Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah”

Sekitar beberapa bulan yang lalu kita baru merayakan pesta demokrasi. Pemilu sebuah hajatan lima tahunan yang seolah-olah benar kita merayakan demokrasi. Namun memang politik adalah barang yang kotor segala macam cara dihalalkan untuk mendapat kursi kekuasaaan. Banyak sekali calon pencoblos yang benar-benar dibentuk media, mungkin juga atas intervensi dari keluarga seperti yang saya alami. Paksaan untuk mencoblos yang dikehendaki keluarga karena paman saya adalah seorang kopasus, sehingga apabila calon presiden yang mereka pilih menjadi presiden. Hidup pamanku akan lebih baik seperti era soeharto. Dimana kopasus dianak emaskan. Namun mereka tidak tahu pekerjaan kotor apa yang dilakukan. Selalu menggunakan nama stabilitas keamanan nasional. Orang-orang tak bersalah dihilangkan. Entah paham apa yang dianut keluarga tercintaku Aku tetap menolak karena aku mempunyai pandangan sendiri. Meskipun aku harus mengumpat paman karena melakukan yang menurutku itu hal bodoh.

Kekhawatiran berlanjut ketika media mulai mempunyai kepentingan politik. Mungkin benar apa yangsaya pelajari beberapa bulan kebelakang, tentang dunia jurnalistik. Banyak dari teman bilang bahwa sebuah media sebenarnya tidah pernah netral. Media akan selalu memihak. Entah kepada rakyat, pembaca ataupun iklan dan kabir/kapitalis birokrat (nama yang ngetrend di kalangan PKI untuk para pemegang saham).

Pada dewasa ini keberpihakan media lebih condong ke kabir. Sehingga masyarakat tidak lagi mendapat informasi yang sesuai dengan fakta.”Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia” begitulah pandangan gie mengenai indepensi media di indonesia.

Namun kebijakan media tidak bisa bisa 100% salah. Mereka hanya ingin media mereka tetap hidup. Agar terus mendapat pemasukan karena tanggung jawab mereka untuk menghidupi para wartawan dan pegawai lainnya. Para kabirlah yang patut dipertanyakan. Media sebagai watch dog atau alat kontrol sosial berubah fungsi mendai alat pelanggengan politik. Para pemilik saham menggunakan media-media mereka untuk saling serang dan pencitraan.

Ungkapan dengan seorang teman pegiat pers mahasiswa bahwa “ruang redaksi adalah ruang yang paling suci”. Sudah jarang lagi di pers umum yang sudah masuk dalam cengkraman kapitalis. Siapa berani bayar mahal maka dialah pemegang kendali ruang redaksi. Media merupakan alat pantau agar pembaca tahu apa yang sedang terjadi disekitarnya. Media juga alat edukasi untuk ikut andil mencerdaskan bangsa. Bukan alat untuk memeberi informasi apa yang diinginkan masyarakat atau siapapun. Namun media adalah alat untuk memberi informasi yang harus diketahui masyarakat.

Sudah sangat jarang media masa yang bisa benar-benar kembali pada fungsinya sebagai alat kontrol. Drummer superman is dead yang biasa disapa Jrx dalam akun twitternya @Jrx menuliskan bahwa “Kekuasaan tanpa oposisi akan menyebabkan kerakusan pada penguasa”. Disinilah fungsi media harusnya sebagai oposisi bersama para pencari keadilan dan orang-orang yang gelisah akan keadaan negerinya hari ini dan esok hari.[]

Jumat, 10 Oktober 2014

21 Maret

Aku tak ingat betul kapan kau dilahirkan
Namun, tepat 21 Maret
Saat nafasmu tinggal seleher
Aku ingat betul dan masih melekat

Begitu pilu
Hanya terdiam
Dan Menggumam
Maaf
Anakmu belum baik








Oleh  : Elki setiyo hadi