Sabtu, 19 November 2016

Ajal

karya seni lukisan bayangan (sumber: babe.news)


Aku hanya mampu berjalan tidak lebih dari lima langkah semenjak pulang dari rumah sakit. Aku selalu berjalan-jalan di dalam rumah berharap ada sebuah keajaiban. Aku mencoba untuk berfikir positif dan yakin akan kesembuhanku.

Hingga pada suatu malam aku bertemu kakekku dalam mimpi. Kakekku adalah orang yang mengjarkanku banyak hal. Menjadi pedoman ketika aku mendidik anak-anakku.

Dia sudah meninggal puluhan tahun lalu. Aku telah lupa tepat tanggal dan tahun kapaan kakekku meninggal. Yang aku ingat adalah kakekku meninggal ketika anak perempuan sulungku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Dan anak laki-laki bungsuku baru belajar berjalan.

Dalam mimpiku kakekku menunjukkanku sebuah jalan lorong yang panjang. Setelah mimpi bertemu kakek kembali aku tak mampu berjalan dan hanya menghabiskan waktu diatas tempat tidur. Apakah ini sebuah pertanda?

Hanya mata dan tanganku yang mampu menggantikan seluruh gerak tubuhku. Untuk berbicara panjangpun rasanya nafasku sudah ngos-ngosan seperti berlari mengelilingi lapangan desa samping kantor kelurahan.

Aku melirik gelas ketika aku ingin minum. Dan orang yang ada disampingku segera mengambilkan gelas minum dengan sendok. Untuk menelan air sebanyak tiga sendok rasanya tenggorokanku sudah sangat sakit. Mungkin seperti ayam yang digorok lehernya sebelum dihidangkan. Apa lagi untuk menelan makanan yang padat. Aku sudah tak bisa lagi menceritakan bagaimana rasa sakitnya. Sebelum akhirnya aku hanya mampu menyucup es untuk menghilangkan rasa dahagaku. Aku tak punya lagi rasa lapar. Tinggal rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhku. Aku hanya memiliki rasa dahaga saja. Walaupun aku harus makan dan minum obat tetapi itu justru sangat menyiksaku. Lidahku telah mati rasa. Tak ada lagi rasa manis dan asin yang ada adalah rasa sakit saat menelan makanan.
Penyakitku telah menjalar ke seluruh tubuh. Muncul benjolan-benjolan kecil dihampir seluruh tubuhku. Itu adalah indikasi bahwa tumor ganas di seluruh tubuhku telah menjalar kemana-mana. Alasan kenapa aku tak mampu lagi menelan banyak makanan. Ada benjolan kecil-kecil disekitar leherku. Benjolan seperti daging itulah yang membuatku merasa sakit jika menelan.

Pusat dari semua benjolan-benjolan kecil itu ada pada kedua pinggulku. Dua tonjolan besar itu adalah induknya. Aku didiagnosa dokter terkena tumor ganas stadium empat. Yang aku juga tak tahu darimana sumber penyakit itu.

Apakah dari makanan yang mengandung banyak bahan kimia, sayuran yang terkena pestisida, ayam yang telah diobat agar cepat tumbuh, atau dari pikiranku yang terlalu berat memikirkan hutang-hutang keluarga besarku.

Aku melakukan segala hal dengan bantuan anak perempuanku. Aku tak tahu bagaimana caranya jika aku tak memiliki anak perempuan seperti dia. Mulai dari menyuapiku makan, memandikanku, mengganti pakaianku dan mencarikan popok untukku di apotik akibat aku tak mampu lagi kekamar mandi. Aku berak melalui perutku dokter memindahkan anusku diperut agar aku bisa berak. Karena tonjolan besar di pinggulku telah menganggu sistem pencernaanku.

 Aku benar-benar tak mampu lagi melakukan apapun tanpa anak perempuanku. Aku hanya bisa berdoa untuknya agar mendapat suami yang baik kelak. Pada suatu malam ditengah tak keberdayaanku.

"Bagaimanapun caranya adikmu harus selesai kuliah, bantulah bapakmu memikirkan kuliah adikmu"

"Ibu, ndak pingin lihat adik wisuda?"

"aku sudah tidak kuat"

Aku merasa air mataku tiba-tiba meleleh di pipiku yang cekung. Aku sebenarnya ingin melihat kesuksesan anak-anakku. Tapi aku tak lagi berkuasa atas diriku. Tubuhku telah dikuasai tumor ganas  yang bersarang di dalam tubuhku.

"Bantulah bapakmu. Kalau bapakmu sudah tua nanti rawatlah dia dengan baik, ibu selalu ada menjaga kalian"

Anak perempuanku melelehkan air matanya. Dengan terbata-bata dia berusaha mengucapkan sesuatu tetapi aku tak mampu lagi mendengar dengan baik. Dibawah telingaku telah muncul benjolan kecil yang mengganggu pendengaranku. Aku peluk dia dengan sisa-sisa tenagaku

"Kamu harus kuat, anak ibu nggak boleh cengeng"

Hari terus berganti. Tubuhku semakin tak berdaya. Aku merasa seperti bayi yang baru dilahirkan. Berbicaraku sudah cidal. Seperti anak kecil yang baru belajar berbicara. Aku merengek-rengek ketika merasakan sakit di bagian tubuhku. Aku ingin bicara tapi mereka tak memahami bahasaku. Anak-anakku dan keluargakupun kebingungan harus melakukan apa ketika aku ingin mengatakan

"dadaku sesak"

Aku menggerakkan tanganku ke dada. Akhirnya anak perempuanku paham dan dia memijit pelan-pelan dadaku. Sedikit rasa nyaman yang akhirnya membuatku bisa tidur lelap tidak lebih dari dua jam

Disampingnya secara bergiliran anak laki-lakiku, suamiku, adik laki-laki bungsuku dan bapakku mengipasiku dengan pelan-pelan. Aku tak bisa kena kipas angin tapi aku selalu kepanasan. Belum lagi ketika rasa perih yang timbul dibagian punggung bawahku karena terlalu lama tidur di kasur membuat kulitku lecet. Mereka bergiliran mengipasi tubuhku sepanjang hari. Memiringkanku ke kanan dan kiri secara bergantian. Lalu dikipas dengan cepat dibagian tubuhku yang lecet, sambil anak perempuanku mengoleskan salep penghilang perih. Tak jarang aku ketiduran dengan posisi miring yang diganjal guling. Tubuh yang tak pernah bergerak beberapa bulan membuat seluruh tubuhku kaku-kaku. Aku hanya bisa terlentang. Sehingga ketika aku dimiringkan bapak atau adik bungsuku rasanya sangat nyaman. Apalagi bagian perih di punggungku dikipas oleh anak lelakiku. Hanya itu cara menghilangkan rasa perih dipunggungku. Ketika sudah capek tidur miring. Aku kembali minta ditelentangkan.

Orang Jawa menyebutnya "Mbogor". Tubuhku seperti mengecil. Kakiku telah dingin seperti sudah tidak ada lagi darah yang mengalir di bagian tubuh bawahku.

Napasku telah sampai dada. Aku kesulitan bernapas. Aku bernapas dengan mengeluarkan suara. Seperti orang yang tidur ngorok.

"Ibumu sudah 'ngosrok' kalian harus ikhlas, tubuhnya sudah sangat lemah, kasihan kalau harus merasakan sakit lebih lama lagi"

Entah kenapa pendengaranku kembali jernih, walaupun daun telingaku sudah layu. Daun telinga yang sudah layu kata orang Jawa adalah salah satu ciri-ciri "Mbogor".

Dihari-hari terakhirku aku melihat suamiku duduk disampingku. Matanya sembab seperti menahan sesuatu yang tidak ingin dia perlihatkan disampingku. Anak lelakiku memijit-mijit kakiku sambil kepalanya terus menunduk. Dia seperti orang yang sedang kebingungan. Anak perempuanku yang selama sakitku menemaniku tak tahu kemana. Aku hanya mendengar sesenggukannya. Tetangga dan keluarga besarku berkerumun disampingku. Ada yang lalu lalang tetapi aku tak tahu apa yang mereka lakukan di dapur. Salah satu tetangga dan teman baikku di samping kiri telingaku mengusap jidatku dan berusaha mengajakku berbicara. Tetapi aku tak lagi mampu melakukan apapun. Hingga akhirnya aku bernapas untuk yang terakhir kalinya. Kuhembuskan napas panjang. Dan dalam hati aku berucap.

"Terima kasih Tuhan, telah memberiku kesempatan bernapas dan mendidik anak-anakku"

Aku berhenti. Ajal telah menjemputku []