![]() |
| karya seni lukisan bayangan (sumber: babe.news) |
Aku hanya mampu berjalan
tidak lebih dari lima langkah semenjak pulang dari rumah sakit. Aku selalu
berjalan-jalan di dalam rumah berharap ada sebuah keajaiban. Aku mencoba untuk
berfikir positif dan yakin akan kesembuhanku.
Hingga pada suatu malam aku
bertemu kakekku dalam mimpi. Kakekku adalah orang yang mengjarkanku banyak hal.
Menjadi pedoman ketika aku mendidik anak-anakku.
Dia sudah meninggal puluhan
tahun lalu. Aku telah lupa tepat tanggal dan tahun kapaan kakekku meninggal.
Yang aku ingat adalah kakekku meninggal ketika anak perempuan sulungku duduk di
bangku Sekolah Menengah Pertama. Dan anak laki-laki bungsuku baru belajar
berjalan.
Dalam mimpiku kakekku
menunjukkanku sebuah jalan lorong yang panjang. Setelah mimpi bertemu kakek
kembali aku tak mampu berjalan dan hanya menghabiskan waktu diatas tempat
tidur. Apakah ini sebuah pertanda?
Hanya mata dan tanganku yang
mampu menggantikan seluruh gerak tubuhku. Untuk berbicara panjangpun rasanya
nafasku sudah ngos-ngosan seperti berlari mengelilingi lapangan desa samping
kantor kelurahan.
Aku melirik gelas ketika aku
ingin minum. Dan orang yang ada disampingku segera mengambilkan gelas minum
dengan sendok. Untuk menelan air sebanyak tiga sendok rasanya tenggorokanku
sudah sangat sakit. Mungkin seperti ayam yang digorok lehernya sebelum
dihidangkan. Apa lagi untuk menelan makanan yang padat. Aku sudah tak bisa lagi
menceritakan bagaimana rasa sakitnya. Sebelum akhirnya aku hanya mampu menyucup
es untuk menghilangkan rasa dahagaku. Aku tak punya lagi rasa lapar. Tinggal
rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhku. Aku hanya memiliki rasa dahaga
saja. Walaupun aku harus makan dan minum obat tetapi itu justru sangat
menyiksaku. Lidahku telah mati rasa. Tak ada lagi rasa manis dan asin yang ada
adalah rasa sakit saat menelan makanan.
Penyakitku telah menjalar ke
seluruh tubuh. Muncul benjolan-benjolan kecil dihampir seluruh tubuhku. Itu
adalah indikasi bahwa tumor ganas di seluruh tubuhku telah menjalar
kemana-mana. Alasan kenapa aku tak mampu lagi menelan banyak makanan. Ada
benjolan kecil-kecil disekitar leherku. Benjolan seperti daging itulah yang
membuatku merasa sakit jika menelan.
Pusat dari semua
benjolan-benjolan kecil itu ada pada kedua pinggulku. Dua tonjolan besar itu adalah
induknya. Aku didiagnosa dokter terkena tumor ganas stadium empat. Yang aku
juga tak tahu darimana sumber penyakit itu.
Apakah dari makanan yang
mengandung banyak bahan kimia, sayuran yang terkena pestisida, ayam yang telah
diobat agar cepat tumbuh, atau dari pikiranku yang terlalu berat memikirkan
hutang-hutang keluarga besarku.
Aku melakukan segala hal
dengan bantuan anak perempuanku. Aku tak tahu bagaimana caranya jika aku tak
memiliki anak perempuan seperti dia. Mulai dari menyuapiku makan, memandikanku,
mengganti pakaianku dan mencarikan popok untukku di apotik akibat aku tak mampu
lagi kekamar mandi. Aku berak melalui perutku dokter memindahkan anusku diperut
agar aku bisa berak. Karena tonjolan besar di pinggulku telah menganggu sistem
pencernaanku.
Aku benar-benar tak mampu lagi melakukan
apapun tanpa anak perempuanku. Aku hanya bisa berdoa untuknya agar mendapat
suami yang baik kelak. Pada suatu malam ditengah tak keberdayaanku.
"Bagaimanapun caranya
adikmu harus selesai kuliah, bantulah bapakmu memikirkan kuliah adikmu"
"Ibu, ndak pingin lihat
adik wisuda?"
"aku sudah tidak
kuat"
Aku merasa air mataku
tiba-tiba meleleh di pipiku yang cekung. Aku sebenarnya ingin melihat
kesuksesan anak-anakku. Tapi aku tak lagi berkuasa atas diriku. Tubuhku telah
dikuasai tumor ganas yang bersarang di
dalam tubuhku.
"Bantulah bapakmu. Kalau
bapakmu sudah tua nanti rawatlah dia dengan baik, ibu selalu ada menjaga
kalian"
Anak perempuanku melelehkan
air matanya. Dengan terbata-bata dia berusaha mengucapkan sesuatu tetapi aku
tak mampu lagi mendengar dengan baik. Dibawah telingaku telah muncul benjolan
kecil yang mengganggu pendengaranku. Aku peluk dia dengan sisa-sisa tenagaku
"Kamu harus kuat, anak
ibu nggak boleh cengeng"
Hari terus berganti. Tubuhku
semakin tak berdaya. Aku merasa seperti bayi yang baru dilahirkan. Berbicaraku
sudah cidal. Seperti anak kecil yang baru belajar berbicara. Aku
merengek-rengek ketika merasakan sakit di bagian tubuhku. Aku ingin bicara tapi
mereka tak memahami bahasaku. Anak-anakku dan keluargakupun kebingungan harus
melakukan apa ketika aku ingin mengatakan
"dadaku sesak"
Aku menggerakkan tanganku ke
dada. Akhirnya anak perempuanku paham dan dia memijit pelan-pelan dadaku.
Sedikit rasa nyaman yang akhirnya membuatku bisa tidur lelap tidak lebih dari
dua jam
Disampingnya secara
bergiliran anak laki-lakiku, suamiku, adik laki-laki bungsuku dan bapakku
mengipasiku dengan pelan-pelan. Aku tak bisa kena kipas angin tapi aku selalu
kepanasan. Belum lagi ketika rasa perih yang timbul dibagian punggung bawahku
karena terlalu lama tidur di kasur membuat kulitku lecet. Mereka bergiliran
mengipasi tubuhku sepanjang hari. Memiringkanku ke kanan dan kiri secara
bergantian. Lalu dikipas dengan cepat dibagian tubuhku yang lecet, sambil anak perempuanku
mengoleskan salep penghilang perih. Tak jarang aku ketiduran dengan posisi
miring yang diganjal guling. Tubuh yang tak pernah bergerak beberapa bulan
membuat seluruh tubuhku kaku-kaku. Aku hanya bisa terlentang. Sehingga ketika
aku dimiringkan bapak atau adik bungsuku rasanya sangat nyaman. Apalagi bagian
perih di punggungku dikipas oleh anak lelakiku. Hanya itu cara menghilangkan
rasa perih dipunggungku. Ketika sudah capek tidur miring. Aku kembali minta
ditelentangkan.
Orang Jawa menyebutnya "Mbogor".
Tubuhku seperti mengecil. Kakiku telah dingin seperti sudah tidak ada lagi
darah yang mengalir di bagian tubuh bawahku.
Napasku telah sampai dada.
Aku kesulitan bernapas. Aku bernapas dengan mengeluarkan suara. Seperti orang
yang tidur ngorok.
"Ibumu sudah 'ngosrok'
kalian harus ikhlas, tubuhnya sudah sangat lemah, kasihan kalau harus merasakan
sakit lebih lama lagi"
Entah kenapa pendengaranku
kembali jernih, walaupun daun telingaku sudah layu. Daun telinga yang sudah
layu kata orang Jawa adalah salah satu ciri-ciri "Mbogor".
Dihari-hari terakhirku aku
melihat suamiku duduk disampingku. Matanya sembab seperti menahan sesuatu yang
tidak ingin dia perlihatkan disampingku. Anak lelakiku memijit-mijit kakiku
sambil kepalanya terus menunduk. Dia seperti orang yang sedang kebingungan.
Anak perempuanku yang selama sakitku menemaniku tak tahu kemana. Aku hanya
mendengar sesenggukannya. Tetangga dan keluarga besarku berkerumun disampingku.
Ada yang lalu lalang tetapi aku tak tahu apa yang mereka lakukan di dapur.
Salah satu tetangga dan teman baikku di samping kiri telingaku mengusap jidatku
dan berusaha mengajakku berbicara. Tetapi aku tak lagi mampu melakukan apapun.
Hingga akhirnya aku bernapas untuk yang terakhir kalinya. Kuhembuskan napas
panjang. Dan dalam hati aku berucap.
"Terima kasih Tuhan,
telah memberiku kesempatan bernapas dan mendidik anak-anakku"
Aku berhenti. Ajal telah
menjemputku []
