Sabtu, 19 November 2016

Ajal

karya seni lukisan bayangan (sumber: babe.news)


Aku hanya mampu berjalan tidak lebih dari lima langkah semenjak pulang dari rumah sakit. Aku selalu berjalan-jalan di dalam rumah berharap ada sebuah keajaiban. Aku mencoba untuk berfikir positif dan yakin akan kesembuhanku.

Hingga pada suatu malam aku bertemu kakekku dalam mimpi. Kakekku adalah orang yang mengjarkanku banyak hal. Menjadi pedoman ketika aku mendidik anak-anakku.

Dia sudah meninggal puluhan tahun lalu. Aku telah lupa tepat tanggal dan tahun kapaan kakekku meninggal. Yang aku ingat adalah kakekku meninggal ketika anak perempuan sulungku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Dan anak laki-laki bungsuku baru belajar berjalan.

Dalam mimpiku kakekku menunjukkanku sebuah jalan lorong yang panjang. Setelah mimpi bertemu kakek kembali aku tak mampu berjalan dan hanya menghabiskan waktu diatas tempat tidur. Apakah ini sebuah pertanda?

Hanya mata dan tanganku yang mampu menggantikan seluruh gerak tubuhku. Untuk berbicara panjangpun rasanya nafasku sudah ngos-ngosan seperti berlari mengelilingi lapangan desa samping kantor kelurahan.

Aku melirik gelas ketika aku ingin minum. Dan orang yang ada disampingku segera mengambilkan gelas minum dengan sendok. Untuk menelan air sebanyak tiga sendok rasanya tenggorokanku sudah sangat sakit. Mungkin seperti ayam yang digorok lehernya sebelum dihidangkan. Apa lagi untuk menelan makanan yang padat. Aku sudah tak bisa lagi menceritakan bagaimana rasa sakitnya. Sebelum akhirnya aku hanya mampu menyucup es untuk menghilangkan rasa dahagaku. Aku tak punya lagi rasa lapar. Tinggal rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhku. Aku hanya memiliki rasa dahaga saja. Walaupun aku harus makan dan minum obat tetapi itu justru sangat menyiksaku. Lidahku telah mati rasa. Tak ada lagi rasa manis dan asin yang ada adalah rasa sakit saat menelan makanan.
Penyakitku telah menjalar ke seluruh tubuh. Muncul benjolan-benjolan kecil dihampir seluruh tubuhku. Itu adalah indikasi bahwa tumor ganas di seluruh tubuhku telah menjalar kemana-mana. Alasan kenapa aku tak mampu lagi menelan banyak makanan. Ada benjolan kecil-kecil disekitar leherku. Benjolan seperti daging itulah yang membuatku merasa sakit jika menelan.

Pusat dari semua benjolan-benjolan kecil itu ada pada kedua pinggulku. Dua tonjolan besar itu adalah induknya. Aku didiagnosa dokter terkena tumor ganas stadium empat. Yang aku juga tak tahu darimana sumber penyakit itu.

Apakah dari makanan yang mengandung banyak bahan kimia, sayuran yang terkena pestisida, ayam yang telah diobat agar cepat tumbuh, atau dari pikiranku yang terlalu berat memikirkan hutang-hutang keluarga besarku.

Aku melakukan segala hal dengan bantuan anak perempuanku. Aku tak tahu bagaimana caranya jika aku tak memiliki anak perempuan seperti dia. Mulai dari menyuapiku makan, memandikanku, mengganti pakaianku dan mencarikan popok untukku di apotik akibat aku tak mampu lagi kekamar mandi. Aku berak melalui perutku dokter memindahkan anusku diperut agar aku bisa berak. Karena tonjolan besar di pinggulku telah menganggu sistem pencernaanku.

 Aku benar-benar tak mampu lagi melakukan apapun tanpa anak perempuanku. Aku hanya bisa berdoa untuknya agar mendapat suami yang baik kelak. Pada suatu malam ditengah tak keberdayaanku.

"Bagaimanapun caranya adikmu harus selesai kuliah, bantulah bapakmu memikirkan kuliah adikmu"

"Ibu, ndak pingin lihat adik wisuda?"

"aku sudah tidak kuat"

Aku merasa air mataku tiba-tiba meleleh di pipiku yang cekung. Aku sebenarnya ingin melihat kesuksesan anak-anakku. Tapi aku tak lagi berkuasa atas diriku. Tubuhku telah dikuasai tumor ganas  yang bersarang di dalam tubuhku.

"Bantulah bapakmu. Kalau bapakmu sudah tua nanti rawatlah dia dengan baik, ibu selalu ada menjaga kalian"

Anak perempuanku melelehkan air matanya. Dengan terbata-bata dia berusaha mengucapkan sesuatu tetapi aku tak mampu lagi mendengar dengan baik. Dibawah telingaku telah muncul benjolan kecil yang mengganggu pendengaranku. Aku peluk dia dengan sisa-sisa tenagaku

"Kamu harus kuat, anak ibu nggak boleh cengeng"

Hari terus berganti. Tubuhku semakin tak berdaya. Aku merasa seperti bayi yang baru dilahirkan. Berbicaraku sudah cidal. Seperti anak kecil yang baru belajar berbicara. Aku merengek-rengek ketika merasakan sakit di bagian tubuhku. Aku ingin bicara tapi mereka tak memahami bahasaku. Anak-anakku dan keluargakupun kebingungan harus melakukan apa ketika aku ingin mengatakan

"dadaku sesak"

Aku menggerakkan tanganku ke dada. Akhirnya anak perempuanku paham dan dia memijit pelan-pelan dadaku. Sedikit rasa nyaman yang akhirnya membuatku bisa tidur lelap tidak lebih dari dua jam

Disampingnya secara bergiliran anak laki-lakiku, suamiku, adik laki-laki bungsuku dan bapakku mengipasiku dengan pelan-pelan. Aku tak bisa kena kipas angin tapi aku selalu kepanasan. Belum lagi ketika rasa perih yang timbul dibagian punggung bawahku karena terlalu lama tidur di kasur membuat kulitku lecet. Mereka bergiliran mengipasi tubuhku sepanjang hari. Memiringkanku ke kanan dan kiri secara bergantian. Lalu dikipas dengan cepat dibagian tubuhku yang lecet, sambil anak perempuanku mengoleskan salep penghilang perih. Tak jarang aku ketiduran dengan posisi miring yang diganjal guling. Tubuh yang tak pernah bergerak beberapa bulan membuat seluruh tubuhku kaku-kaku. Aku hanya bisa terlentang. Sehingga ketika aku dimiringkan bapak atau adik bungsuku rasanya sangat nyaman. Apalagi bagian perih di punggungku dikipas oleh anak lelakiku. Hanya itu cara menghilangkan rasa perih dipunggungku. Ketika sudah capek tidur miring. Aku kembali minta ditelentangkan.

Orang Jawa menyebutnya "Mbogor". Tubuhku seperti mengecil. Kakiku telah dingin seperti sudah tidak ada lagi darah yang mengalir di bagian tubuh bawahku.

Napasku telah sampai dada. Aku kesulitan bernapas. Aku bernapas dengan mengeluarkan suara. Seperti orang yang tidur ngorok.

"Ibumu sudah 'ngosrok' kalian harus ikhlas, tubuhnya sudah sangat lemah, kasihan kalau harus merasakan sakit lebih lama lagi"

Entah kenapa pendengaranku kembali jernih, walaupun daun telingaku sudah layu. Daun telinga yang sudah layu kata orang Jawa adalah salah satu ciri-ciri "Mbogor".

Dihari-hari terakhirku aku melihat suamiku duduk disampingku. Matanya sembab seperti menahan sesuatu yang tidak ingin dia perlihatkan disampingku. Anak lelakiku memijit-mijit kakiku sambil kepalanya terus menunduk. Dia seperti orang yang sedang kebingungan. Anak perempuanku yang selama sakitku menemaniku tak tahu kemana. Aku hanya mendengar sesenggukannya. Tetangga dan keluarga besarku berkerumun disampingku. Ada yang lalu lalang tetapi aku tak tahu apa yang mereka lakukan di dapur. Salah satu tetangga dan teman baikku di samping kiri telingaku mengusap jidatku dan berusaha mengajakku berbicara. Tetapi aku tak lagi mampu melakukan apapun. Hingga akhirnya aku bernapas untuk yang terakhir kalinya. Kuhembuskan napas panjang. Dan dalam hati aku berucap.

"Terima kasih Tuhan, telah memberiku kesempatan bernapas dan mendidik anak-anakku"

Aku berhenti. Ajal telah menjemputku []

Jumat, 29 April 2016

Juru Parkir Dilarang Parkir di Malioboro

sumber:merdeka.com


Tahun 2014, aku menginjakkan kakiku di Yogyakarta. Aku ke Yogyakarta bertujuan untuk menempuh pendidikan di tingkat universitas. Selayaknya pendatang baru, Jl Malioboro dan perempatan Titik Nol Kilometer selalu menjadi tempat yang menarik di Yogyakarta, karena sepanjang Jl. Malioboro adalah destinasi wisatawan lokal dan asing yang membuat Yogyakarta sangat terkenal sebagai kota pariwisata. Bulan-bulan awal saya di Yogyakarta hampir setiap malam saya dan teman saya menghabiskan malam dengan menelusuri Jl. Malioboro lalu berhenti di sekitar perempatan Nol Kilometer.

Kami mempunyai kebiaasaan menaruh motor dimanapun asalkan aman dan gratis. Aman dalam artian pinggir trotoar yang tidak tertabrak jika ada mobil lewat. Tempat gratis adalah pinggir trotoar yang tidak ada petugas jaga parkirnya, karena di beberapa titik seperti Benteng Vredeubug dan depan bangunan BNI menjadi tempat parkir. Tulisan-tulisan “dilarang parkir” tidak kami gubris, bahkan saat iseng kami sengaja memarkir motor di bawah tulisan larangan tersebut. Sambil tertawa dan membayangkan kelucuan-kelucuan yang akan terjadi jika motor diangkut, kami berlalu mencari penjual kopi keliling dan rokok ketengan.

Tidak terasa dua tahun saya di Jogja. Saya sudah lupa kapan terakhir kali main ke jl. Malioboro. Hingga pada suatu malam, saya dan teman-teman melihat reklame penolakan terhadap pemindahan lahan parkir yang dilakukan oleh pemerintah daerah.

Info yang saya lansir dari Tempo.co, Meskipun relokasi mendapat penolakan dari Paguyuban Juru Parkir Malioboro, relokasi tetap dijalankan pada tanggal 4 April 2016. Polisi menurunkan 300 personil untuk menjaga jalannya relokasi ke parkiran Abu Bakar Ali. Pengamanan di Malioboro tak hanya saat relokasi, tapi juga akan berlangsung intensif dari 4 hingga 10 April 2016. Dengan sistem shift pihak kepolisian. "Tak hanya gangguan keamanan, tapi juga kondisi lalu lintas," ujar juru bicara Polrestabes Yogyakarta, Ajun Komisaris Partuti, kepada Tempo, Ahad, 3 April 2016.

Dalam setiap kebijakan yang diberlakukan oleh pemerintah sering menimbulkan pro dan kontra yang dapat menimbulkan konflik horizontal. Hal ini juga terjadi di peristiwa relokasi parkir yan memecah dua kubu.

“Dalam paguyuban juru parkir Yogyakarta terjadi perpecahan antara kelompok yang pro dan kontra. Di tingkat induk paguyuban, Forum Komunikasi Pekerja Parkir Yogyakarta (FKPY), terjadi beda pendapat soal relokasi. Begitu juga halnya di tingkat Paguyuban Parkir Malioboro. Paguyuban Parkir Malioboro, yang diketuai Sigit Karsana Putra, menolak relokasi tersebut” Tulis Tempo.co edisi 3 April 2016

Saya tidak begitu mengikuti, bagaimana jalannya Relokasi dari parkir sisi timur Jl. Malioboro ke Parkiran Abu Bakar Ali. Tapi hendaknya pemerintah memperhatikan dan mengkaji secara serius sebab dan akibat dari setiap tata kelola kota. Pemerintah harus dapat mengkaji dari segi ekonomi. Pihak manakah yang akan diuntungkan dan dirugikan.

50 ribu sehari selama dua bulan, adalah uang ganti rugi yang diberikan pemerintah kepada tukang parkir yang lahan parkirnya terkena relokasi. Padahal menurut Hanarto salah satu juru parkir Malioboro mengatakan bahwa dalam sehari dirinya mampu membawa pulang uang 300 ribu hingga 400 ribu sehari.

“Apalagi saat musim liburan. Dalam sebulan juru parkir Malioboro bisa membawa pulang Rp 9 juta sampai Rp 12 juta, diatas gaji pegawai kantoran di Yogyakarta,” tulis Tempo.co edisi 2 April 2016. Hanarto adalah salah satu dari 95 juru parkir resmi yang terdaftar di Pemerintahan Yogyakarta.

Setiap kebijakan-kebijakan politik pemerintah selalu menimbulkan efek domino. Dimana persoalan tidak hanya tentang 95 juru parkir terebut. Juru parkir yang bekerja di area Malioboro juga mempunyai tanggungan keluaga. Seperti Sigit Karsana Putra, ketua Paguyuban Juru Parkir Malioboro yang mampu menyekolahkan anaknya di Universitas Gadjah Mada (UGM) dari mata pencahariannya sebagai juru parkir. Sigit menuntut agar ada kompensasi yang diberikan untuk biaya pendidikan anak mereka. Ditengah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia, Sigit dan Juru parkir lainnya harus memutar otak untuk tetap menyekolahkan anak mereka.

Di tengah hingar bingar Yogyakarta, sebagai salah satu tempat tujuan wisata favorite bagi wisatawan domestik atau wisatawan asing. Yogyakarta memiliki luka-luka yang belum tersembuhkan. Jika kita berputar-putar di Yogyakarta kita pasti dapat melihat suara-suara protes seperti “Jogja Ora Didol”, “Jogja Berhenti Nyaman”, dan tulisan-tulisan di sudut-sudut gelap Jogja lainnya, merupakan suara jeritan yang tidak terdengar.

Relokasi Parkir sisi timur Malioboro ke Parkiran Abu Bakar Ali yang digadang-gadang sebagai tempat parkir modern merupakan salah satu peristiwa bahwa pembangunan di Yogyakarta guna menunjang kenyamanan wisatawan, tidaklah berpihak kepada masyarakat Yogyakarta. Kemajuan wisata di Yogyakarta hanya menguntungkan segelintir orang yang memiliki modal besar.

Pembangunan–pembangunan yang terjadi, di Yogyakarta merupakan metode pembangunan yang diwariskan dari Orde Baru. Soeharto dinobatkan sebagai bapak pembangunan. Namun pembangunan yang dicanangkan oleh Soeharto merupakan pembangunan yang tidak benar-benar berorientasi terhadap masyarakat.

Jika, kita melihat kebelakang. Pembangunan Taman Mini Indonesia Indah yang diinisiasi oleh istri Soeharto yaitu Tien Soeharto mendapat kecaman keras dari mahasiswa. Mereka menganggap bahwa pembangunan TMII tidaklah tepat sasaran. Menurut mahasiswa, pembangunan TMII bukanlah kebutuhan pokok. Apalagi inisiatif Tien tersebu muncul saat presiden Soeharto sedang giat meminta mengurangi pengeluaran yang tidak perlu. Biaya pembangunan TMII yang mahal dan ketidak jelasan sumber dana dianggap oleh mahasiswa bertolak belakang dengan kepentingan negara saat itu. Mereka juga menyoroti sikap yang tidak jelas dari Menteri Amirmahcmud yang mendukung proyek Ibu Negara. Mahasiswa mengecam biaya Rp 10,5,-milyar yang amat mahal dari proyek prstise tersebut. (Francois Railon 1985:95)

Sejarah merupakan tolak ukur untuk membangun negara yang lebih baik. Sejarah memang tidak selalu objektif, tapi setidaknya dari sejarah kita dapat belajar dari kegagalan dan keberhasilan yang terjadi saat itu. Teks-teks sejarah dapat dijadikan sebuah panduan. Saya masih berharap semoga Yogyakarta tetap akan menjadi kota yang nyaman seperti lirik lagu “Yogyakarta” yang dinyanyikan Katon Bagaskara.



Sumber Buku:
Railon, Francois. Politik Ideologi Mahasiswa Indonesia. 1985. LP3ES: Jakarta

SumberInternet
Tempo.co. Ratusan Polisi Amankan Relokasi Parkir Malioboro. 2016
Tempo.co. Juru Parkir Malioboro Bisa Kuliahkan anaknya di UGM. 2016

Minggu, 10 Januari 2016

Saatnya Katakan Tidak Pada Superman Is Dead

 (sumber: Google)
Superman Is Dead adalah salah satu band Bali yang keras meneriakkan penolakan terhadap reklamasi Teluk Benoa. Penolakan tersebut berdasarkan pada kerusakan yang akan terjadi jika Teluk Benoa direklamasi. Reklamasi akan mengubur terumbu karang sebagai habitat ikan dan biota laut. Tentu saja apabila terumbu karang rusak ikan-ikan disekitar Teluk Benoa akan mati. Dampak yang begitu besar terhadap kelangsungan hidup warga  sekitar Teluk Benoa yang mata pencahariannya sebagai nelayan. Reklamasi pernah dilakukan di Nusa Dua dimana akhirnya yang terjadi adalah hilangnya salah satu tempat pencarian ikan. Selain Karena rusaknya laut di Nusa Dua. Dalam wawancara di film “Kala benoa”. Salah satu pengemudi boat memaparkan. Nusa Dua telah diprivatisasi “Dulu tempat itu digunakan nelayan sekitar untuk mencari ikan, tapi sekarang sudah tidak bisa lagi” ungkap pelaut.

Tentu saya sangat mengapresiasi dan mengacungkan empat jempol untuk Superman Is Dead. Kepeduliannya pada lingkungan dengan aksi nyata membuat Superman Is Dead terlihat cool. Jarang sekali ada band yang mempunyai fanbase besar mau turun ke jalan bersama mahasiswa dan rakyat untuk melakukan aksi penolakan terhadap kerusakan yang dibuat oleh investor tak bertanggung jawab.

I Gede Ari Astina atau lebih terkenal dipangil Jrx sangat keras meneriakkan aksi-aksi perlawanan terhadap korporasi-korporasi yang menyengsarakan rakyat. Tidak dipungkiri fansbase (Outsiders dan Lady Rose) adalah kekuatan bagi Superman Is Dead. Dengan terlihat rebellious (bahasa anak muda kekinian) merupakan daya tarik bagi bocah-bocah usia belasan. Terbukti dari jumlah fansbase yang terbesar kedua setelah Slankers (Fansbase grup band Slank).

Telkomsel pernah digertak dengan basis massa Superman Is Dead, Saat itu Telkomsel menyebarkan sms agar para pelanggannya pro dengan reklamasi di Bali. Jrx langsung bertindak dengan melakukan kampanye anti Telkomsel dengan cara mematahkan kartu Simpatinya lalu diupload dalam media sosial. Setelah mendapat gertakan dari Jrx, Telkomsel secara terbuka melakukan permohonan maaf kepada public.

Jrx adalah salah satu personil yang menurutku sangat menarik, sebab Jrx merupakan simbol “perlawan” yang dimiliki Superman Is Dead (sejenis mascot yang terdapat di Indomaret untuk menarik perhatian pengunjung). Jrx, terlihat lebih menonjol daripada dua personil Superman Is Dead yang lainnya. Dia banyak menulis lagu untuk Superman Is Dead, selain itu Jrx lebih terlihat menonjol karena dia sangat aktif di media sosial. Dalam akun media sosialnya Jrx selalu meneriakkan tentang perlawanan, sikap politik, dan menulis isu-isu sosial yang sedang terjadi salah satunya keprihatinannya tentang kematian misterius Salim Kancil yang mati misterius, dan yang paling baru konsernya kemarin Sabtu, 17 Oktober 2015 di Mandala Krida, Yogyakarta. Mereka mengkampanyekan “Jogja Ora Didol”. Pertanyaannya adalah apakah benar Superman Is Dead tulus melakukan sebuah kampanye dan gerakan anti perusakan ruang hidup?

Jokowi dan Superman Is Dead

Superman Is Dead atau malah mungkin hanya politik Jrx. Dalam akun Facebook pribadinya menulis.  “Saya menjilat ludah saya sendiri. Dulu saya tidak pernah berpartisipasi dalam Pemilu. Namun kali ini saya harus memilih. Karena calon wakil presiden nomor satu (Hatta Rajasa) adalah salah satu  yang setuju apabila Teluk Benoa direklamasi”

Maka dari itu Jrx dalam akun sosialnya menegaskan bahwa dia memilih calon presiden kubu nomor dua yaitu Jokowi dan Jusuf Kalla. Sebelum diadakannya Pemilihan Presiden ketika Jokowi masih menjadi Gubernur Jakarta terpilih. Dia mengatakan dalam wawancara yang ramai dibicarakan oleh netizen “saya tidak mengerti boyband, kalau Superman Is Dead dan Burgerkill saya paham” ungkap Jokowi dalam sebuah wawancaranya di liputan 6.

Tanggapan Jokowi tentang Superman Is Dead, Slank, dan, Burgerkill saya pikir tidak keluar secara spontan, sebab tiga band tersebut mempunyai basis massa yang tidak sedikit. Apalagi ungkapan dari Jokowi muncul saat Pemiliha Presiden. Sidang pembaca yang terhormat dapat menyimpulkan sendiri maksud dan tujuan Jokowi mengungkapkan itu. Saya tidak mengatakan bahwa Superman Is Dead telah dituggangi oleh kepentingan  politik. Namun, sikap Jrx yang reaksioner dengan menyebarluaskan statemen dari Jokowi adalah sebuah kejanggalan. Saya sangat yakin, Jrx tidak se“bodoh” itu. Jrx mempunyai track record di dunia aktivisme, terlihat dari pengakuannya kepada salah satu media di Internet. Dia mengaku ikut bergabung dalam pelengseran rezim birokratik militeristik Orde Baru. hal tersebut dapat membuktikan bagaimana sepak terjang Jrx di dunia aktivisme.

Sunset Di Tanah Anarki Kian Tenggelam

Kekecewaan mulai muncul akhir-akhir ini. ketika Jrx yang seharusnya di daluat sebagai agitator malah sering membicarakan dan memasarkan merk baju yang sedang ia kelola “Rumble”. Akhir-akhrir ini Jrx lebih terlihat seperti seorang fashiontrip yang menggunakan stylenya hanya maco-macoan. Perlawanan bukan lagi untuk membela kaum tertindas seperti apa yang dia lakukan untuk gerakan Bali Tolak Reklamasi.

Saya terus mengikuti perkembangan Superman Is dead dan kevokalannya meneriakkan Bali menolak Reklamasi. Superman Is Dead bergabung dengan Forum Bali yang merupakan kumpulan dari warga bali yang menolak Reklamasi Teluk Benoa.  Superman Is Dead adalah salah satu corong kuat yang mampu mendomplang isu Reklamasi. Saya tidak meragukan keseriuasan Jrx dan kawan-kawan dalam memperjuangkan ekosistem di teluk Benoa.

Sekitar awal tahun 2015,Saat “Rumble” mulai dikenal oleh Outsider dan Lady Rose. Jrx mulai memasang foto di akunnya dengan mengetag produk-produk yang sedang melekat ditubuhnya. Saya tidak menyalahkan usaha yang dilakukannya. Memproduksi dan menjual kaos distro adalah pekerjaan yang mulia. Namun, yang saya sayangkan sebagai Outsider yang murtad, adalah bagaimana Jerinx mulai menggiring isu Reklamasi ke pasar.

“Rumble” adalah nama yang dipilih oleh Jrx sebagai nama produknya. Jrx mengatakan bahwa setiap item “Rumble” yang terjual beberapa persen hasil penjualannya akan di sumbangkan kepada Wahana Lingkungan (Walhi) Bali untuk perjuangan menolak Reklamasi Teluk Benoa.

Jrx adalah Founding bukan Aktivis

“Peraturan Presiden No.51/2014 tentang rencana tata ruang kawasan perkotaan Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Sarbagita). Salah satu poin terpenting dari aturan tersebut adalah mengubah peruntukkan Perairan Teluk Benoa dari kawasan konservasi perairan menjadi zona budi daya yang dapat direklamasi maksimal seluas 700 Hektare. Aturan yang ditetapkan 30 Mei 2014 tersebut merevisi Peraturan Presiden No.45/2011 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Sarbagita yang memasukkan kawasan Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi perairan” tulis bisnis.com yang ditulis tanggal 11 Juni 2014.

Pada dasarnya sikap Jrx yang memberi kontribusi secara finansial kepada gerakan tolak Reklamasi patut diapresiasi. Namun, akhir-akhir ini ada sebuah kejanggalan yang membuat saya agak bingung dari sikap Jerinx muncul. Jerinx sangat aktif melaporkan sumbangan kepada Walhi hasil penjualan “Rumble” di media melaui status, dan foto yang disertakan.
Dalam sebuah perjuangan, suntikan financial memang sangat penting. Dalam sebuah gerakan suntikan financial memang sangat diperlukan. Dengan memberikan sebuah suntikan dana, jerinx telah ikut berkontribusi dalam gerakan Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBali).

Dari aksi budaya, dan aksi turun kejalan yang telah dilakukan sepertinya memang belum banyak menekan pemerintah. Dari peristiwa yang telah Jrx tunjukkan kepada Telkomsel, dengan basis massa sebesar itu, seharusnya kita bertanya, Langkah apa yang ingin diperjuangkan Superman Is Dead untuk menekan pemerintah? Sebab sepertinya Jrx yang telah terbuka pada saat pemilu ikut mengkampanyekan Jokowi. Namun, hingga saat ini ketika Jokowi belum melakukan apa-apa terhadap kasus Reklamasi bali, seharusnya Jerinx lebih bisa menekan pemerintah.

“Ambi Alih Gelombang tuk menyerang, engkau diam, penuh dendam, tersudut tak terdengar” dengan suara Bobby dan gubahan dentuman drum dari Jrx. Lirik yang begitu kuat dari suara yang termarginalkan. Superman Is Dead yang sekarang bukanlah yang “tersudut tak terdengar”, mereka berada di “Arus Gelombang” yang saya yakin seharusnya mampu menerjang apapun didepannya termasuk batu karang bernama pemerintah.

Jrx lebih memilih untuk sibuk dengan isu “Orisinalitas”, akhir-akhir ini Jrx sering sekali mengecam tentang hak cipta “Untuk menjadi Outsiders/Lady Rose, anda TIDAK HARUS membeli/memakai produk RMBL. Kalau memang tak mampu membeli yang original, ya tidak usah membeli yg palsu,” tulis Jrx di Facebook tertanggal 20 januari. Jrx menyatakan bahwa kadar Outsiders atau lady Rose tidak dihitung penggunaan “Rumble”.


Yogyakart, 2015

Jumat, 08 Januari 2016

Sampaikan Pada Tuhan, Bu!




sumber: Doc. Jaganyala

Ibu, bagaimana kabarmu, apakah Tuhan memberikan apa yang sudah dijanjikan pada kita. Katanya, orang baik itu mendapatkan surga. Apakah disurga ibu menemukan kolam susu? katanya juga, disana ada neraka ya bu.

Waah jika memang itu ada, baguslah. Berarti ibu sudah tidak akan kehausan lagi. karena didunia kami sedang berjuang untuk mempertahankan karunia Tuhan bu, yaitu air..

Anakmu yang nakal ini sekarang masih belum baik bu. sampaikan maafku untuk Tuhan ya. Aku masih sibuk dengan urusan duniaku bu. Di seluru sudut dunia selalu ada orang yang rakus. aku sudah agak pesimis dengan kekuatan doa bu. karena Amiin saja tidak akan pernah menghasilkan apa-apa. yang ada cuma amiin rais. Aku yakin ibu pasti kenal dengan Amin rais.

Jika disana ada air susu. beritahu Tuhan ya bu. berilah sedikit keadilan di dunia. bukankah manusia didaulat sebagai khalifah. tapi, akhir-akhir ini bumi akan disedot habis oleh orang-orang rakus. mereka memakan apa saja yang ada di depan matanya bu, laut, gunung, panas bumi, bahkan daging manusia bu. bahkan di Rembang orang rakus memakan gunung bu. kalau ibu berfikir mungkin mereka kelaparan ibu salah. karena yang memakannya adalah orang yang mampu beli beras dan menyewa ahli untuk melanggengkan keinginannya memakan gunung bu.

Tanyakan pada Tuhan bu, bagaimana sistem keadilan disana? karena di negeri kita Undang-Undang pasal 33 ayat tiga yang berbunyi "Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat." memang kekayaan alam dikuasai negara tapi bukan untuk kemakmuran rakyat. Negara telah berkongsi dengan orang rakus bu. Apakah Tuhan sedang sibuk sekarang bu? kok Tuhan diam saja

Di Dunia keadilan hanya mitos bu. keadilan kami hanya untuk pencuri kayu yang usianya sudah tua. apakah disana Tuhan berlaku adil. ow ya karena kerakusan orang itu. ibu-ibu dan keluarganya di rembang terancam kehilangan sumber air dan mata pencahariannya bu. sampaikan pada Tuhan. besok lagi aku ngantuk...

Yogyakarta, di waktu yang terlupakan

Jumat, 19 Desember 2014

Rebelious oh rebelious



Tulisan ini bukan tulisan serius. Anggap saja ini adalah tulisan seorang pemuda tak bermoral. Membayangkan Sola aoi telanjang di depannya. Tapi  renungkanlah jika ada waktu atau kalian masih sibuk ingin terlihat paling memberontak.

Pemberontakan anak gaul zaman sekarang

Memberontak atau lebih kerennya lagi adalah rebellious. Adalah penyakit yang selalu menjangkiti anak-anak tanggung yang baru gede sampai ada yang sudah tidak gede lagi (baca: Tua). Itu adalah hal yang biasa terjadi karena adanya keinginan diakui -bahwa kita ini ada- oleh lingkungan sekitar dan dalam proses pencarian jati diri. Kenapa saya mengtakan “penyakit” karena fenomena ingin terlihat rebellious ini mewabah seperti penyakit yang menular semacam panu kronis.

Para pemberontak ini sering melakukan hal-hal kecil yang kadang terlihat menggelikan. Seperti berlagak bagaikan ksatria tanpa pedang-meminjam lirik lagu Superman Is Dead,bulan dan ksatria-karena merebutkan wanita “perempuan adalah mainan yang berbahaya karena itu lelaki menyukai perempuan”Nietzche . Apakah lelaki yang mengaku jantan mengamini Nietczche, entahlah? Tapi itu adalah fenomena yang sering menjangkiti anak muda. Berkelahi sampai babak blur untuk merebutkan seorang wanita agar terlihat jantan dan melindunginya. Lelaki tanggung selalu ingin terlihat jantan dengan melakukan pertarungan seperti itu. Budaya hokum rimba yang sudah menjadi tradisi. Sebenarnya untuk apa  saya melakukannya? Melihat konser musik-musik cadas tentang sebuah perlawanan terhadap kemapanan dan menggunakan aksesoris, kaos serta  topi agar terlibat lebih garang, apalagi dengan atribut yang ber-branded. Ada yang lebih radikal lagi dengan mendirikan sebuah komunitas yang bahasa gaulnya disebut fansbase. Komunitas yang mempunyai kesamaan diantara para anggotanya yaitu suka pada band atau penyanyi yang sama. Sudah bisa ditebak apa agende rutin mereka. Melihat konser bersama dengan kaos sama dan slogan yang ditulis di poster atau reklame.
 Note:
Bajingan!!! tulisan ini harus terhenti disini karena sangat sulit melanjutkan tulisan yang telah kehilangan jalannya. Ini adalah tulisan yang aku tulis beberapa hari lalu tapi terhenti setengah jalan karena suatu hal yang sialan!! Aku percaya ini adalah kegelisahan dan keresahanku. Meskipun tanpa tujuan. Belajar dari Putut EA bahwa tulisan seperti bayi biarkan dia berpetualang dan hidup. Maka aku tulis kegelisahanku yang setengah jadi ini.

Senin, 27 Oktober 2014

Demokrasi semu, Media bias dan kapitalisme

Tidak ada yang lebih puitis dari berbicara tentang kebenaran
Soe Hok Gie”



Demokrasi adalah paham politik yang digunakan di Indonesia. Rakyat bebas berpendapat semua boleh mengungkapkan apa yang diinginkan. Seperti itulah sedikit gambaran tentang demokrasi. Namun soe hok gie pernah mengungkapkan bahwa “Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah”

Sekitar beberapa bulan yang lalu kita baru merayakan pesta demokrasi. Pemilu sebuah hajatan lima tahunan yang seolah-olah benar kita merayakan demokrasi. Namun memang politik adalah barang yang kotor segala macam cara dihalalkan untuk mendapat kursi kekuasaaan. Banyak sekali calon pencoblos yang benar-benar dibentuk media, mungkin juga atas intervensi dari keluarga seperti yang saya alami. Paksaan untuk mencoblos yang dikehendaki keluarga karena paman saya adalah seorang kopasus, sehingga apabila calon presiden yang mereka pilih menjadi presiden. Hidup pamanku akan lebih baik seperti era soeharto. Dimana kopasus dianak emaskan. Namun mereka tidak tahu pekerjaan kotor apa yang dilakukan. Selalu menggunakan nama stabilitas keamanan nasional. Orang-orang tak bersalah dihilangkan. Entah paham apa yang dianut keluarga tercintaku Aku tetap menolak karena aku mempunyai pandangan sendiri. Meskipun aku harus mengumpat paman karena melakukan yang menurutku itu hal bodoh.

Kekhawatiran berlanjut ketika media mulai mempunyai kepentingan politik. Mungkin benar apa yangsaya pelajari beberapa bulan kebelakang, tentang dunia jurnalistik. Banyak dari teman bilang bahwa sebuah media sebenarnya tidah pernah netral. Media akan selalu memihak. Entah kepada rakyat, pembaca ataupun iklan dan kabir/kapitalis birokrat (nama yang ngetrend di kalangan PKI untuk para pemegang saham).

Pada dewasa ini keberpihakan media lebih condong ke kabir. Sehingga masyarakat tidak lagi mendapat informasi yang sesuai dengan fakta.”Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia” begitulah pandangan gie mengenai indepensi media di indonesia.

Namun kebijakan media tidak bisa bisa 100% salah. Mereka hanya ingin media mereka tetap hidup. Agar terus mendapat pemasukan karena tanggung jawab mereka untuk menghidupi para wartawan dan pegawai lainnya. Para kabirlah yang patut dipertanyakan. Media sebagai watch dog atau alat kontrol sosial berubah fungsi mendai alat pelanggengan politik. Para pemilik saham menggunakan media-media mereka untuk saling serang dan pencitraan.

Ungkapan dengan seorang teman pegiat pers mahasiswa bahwa “ruang redaksi adalah ruang yang paling suci”. Sudah jarang lagi di pers umum yang sudah masuk dalam cengkraman kapitalis. Siapa berani bayar mahal maka dialah pemegang kendali ruang redaksi. Media merupakan alat pantau agar pembaca tahu apa yang sedang terjadi disekitarnya. Media juga alat edukasi untuk ikut andil mencerdaskan bangsa. Bukan alat untuk memeberi informasi apa yang diinginkan masyarakat atau siapapun. Namun media adalah alat untuk memberi informasi yang harus diketahui masyarakat.

Sudah sangat jarang media masa yang bisa benar-benar kembali pada fungsinya sebagai alat kontrol. Drummer superman is dead yang biasa disapa Jrx dalam akun twitternya @Jrx menuliskan bahwa “Kekuasaan tanpa oposisi akan menyebabkan kerakusan pada penguasa”. Disinilah fungsi media harusnya sebagai oposisi bersama para pencari keadilan dan orang-orang yang gelisah akan keadaan negerinya hari ini dan esok hari.[]

Jumat, 10 Oktober 2014

21 Maret

Aku tak ingat betul kapan kau dilahirkan
Namun, tepat 21 Maret
Saat nafasmu tinggal seleher
Aku ingat betul dan masih melekat

Begitu pilu
Hanya terdiam
Dan Menggumam
Maaf
Anakmu belum baik








Oleh  : Elki setiyo hadi