Sabtu, 20 September 2014

Mempertanyakan Media



Pertemuan perkenalan bengkel menulis kemarin menghasilkan banyak ide menarik dari kawan-kawan. Beberapa pertanyaan dan pernyataan kawan-kawan menjadi pertimbangan ditulisanku kedepannya. Diantaranya pernyataan lutfi mengenai arah kemana arah media menggiring opini publik karena menurut lutfi bahasa yang diperhalus atau biasa disebut eufemisme dapat mempengaruhi publik. Bahasa merupakan framing berita yang masuk dalam politik redaksi.

Pertanyaan bang Ivan: jika media adil lantas apa dampaknya bagi masyarakat? Sejauh mana pemberitaan media membawa perubahan bagi masyarakat? Media berfungsi sebagai alat pantau, pemberi informasi dan sarana edukasi bagi publik media tidak hanya memberikan informasi sekedar tahu. Meminjam istilah Juurgen Habermas “ruang publik politisi warga” maka disini kembali publik dan pembaca bagaimana warga menyikapi apa yang terjadi hari ini disekitarnya.

Tirto Adhi Soerjo, Bapak Pers Indonesia melalui Medan Prijaji memberikan delapan pedoman peran surat kabar (pers) “memberi informasi, menjadi penyuluh keadilan memberi bantuan hukum,menjadi tempat pengaduan orang tersia-sia, membantu orang mencari pekerjaan, menggerakkan untuk berorganisasi atau mengorganisasi diri, membangun dan memajukan bangsa serta memperkuat bangsanya dengan usaha dan perdagangan” jelas disini medan prijaji secara gamblang menunjukkna kemana media berpihak dan apa fungsi media.

Kesucian ruang redaksi yang kini telah banyak dimasuki kepentingan-kepentingan politik dan ekonomi pemodal menjadi bom waktu yang siap meledak. Karena akan menurunkan jumlah pembaca. Sikap publik yang kritis juga harus diperhitungkan seperti beberapa bulan ini mengenai kasus TV ONE yang menjadi bulan-bulanan para komikus di dunia maya. komedi-komedi satir dilayangkan. Salah satunya melalui meme

Selain itu jurnalis-jurnalis muda jebolan pers mahasiswa yang dikenal kritis dan memperhatikan kwalitas berita. Ketika bekerja di media massa akan menelan pil pahit karena apa yang mereka dalami dalam berproses di pers mahasiswa akan sia-sia. Sebab akan banyak tekanan-tekanan yang muncul dari berbagai pihak termasuk intervensi dalam ruang redaksi. Para jurnalis muda ini mau tidak mau harus melayani berita pesanan dari pemodal ataupun pemasang iklan.

Dave boyle dalam bukunya berjudul media kooperasi & kooperasi media. Menjelaskan “media berita sangat membutuhkan sistem keuangan yang lengas untuk memproduksi berita, sedangkan publik membutuhkan media yang beritanya dapat dipercaya. Kooperasi menjawab dua persoalan itu”. Diantara banyak wacana-wacana mengenai media. Memasukkan kooperasi di bidang media adalah momen yang tepat. Karena kooperasi bisa menyediakan sejumlah kebutuhan pokok organisasi media. Kooperasi mempunyai reputasi yang baik mengenai kesetaraan dan kerja sama. Selain itu koopersai juga memberikan kesempatan untuk semuayang terlibat dalam perusahaan, untuk mendapatkan keuntungan yang lebih baik. Kooperasi diharapkan dapat memperbaiki sistem keuangan media. Sehingga media dapat benar-benar cover boardside dan sesuai kode etik jurnalistik serta independensi sebuah media dapat terjaga. Tidak seperti ketika media dimiliki perseorangan sehingga media harus patuh dan tunduk terhadap si pemodal. Yang menjadikan media menjadi alat propaganda dan pencitraan. []

Elki setiyo hadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar